NANOTECHNOLOGY

nanoteknologi

nanoteknologi

Nanoteknologi mencakup pengembangan teknologi dalam skala nanometer, biasanya 0,1 sampai 100 nm (satu nanometer sama dengan seperseribu mikrometer atau sepersejuta milimeter). Istilah ini kadangkala diterapkan ke teknologi sangat kecil. Artikel ini membahas nanoteknologi, ilmu nano, dan nanoteknologi molekular “conjecture“.

Istilah nanoteknologi kadangkala disamakan dengan nanoteknologi molekul (juga dikenal sebagai “MNT”), sebuah conjecture bentuk tinggi nanoteknologi dipercayai oleh beberapa dapat dicapai dalam waktu dekat di masa depan, berdasarkan nanosistem yang produktif. Nanoteknologi molekul akan memproduksi struktur tepat menggunakan mechanosynthesis untuk melakukan produksi molekul. Nanoteknologi molekul, meskipun belum ada, dipromosikan oleh para pendukungnya nantinya akan memiliki dampak yang besar dalam masyarakat bila benar-benar jadi.

Di Indonesia sendiri, keberadaan nanoteknologi masih belum cukup populer. Hanya kalangan tertentu saja khususnya akademisi yang kerap bergulat dengan rekayasa material. Sementara, masyarakat awam hanya mampu merasakan hasilnya.

“Contoh paling sederhana saja soal flash disk yang mampu untuk menyimpan data hingga ukuran giga. Tapi, dengan rekayasa nanoteknologi, kekuatan menyimpan bisa mencapai ukuran tera. Jauh melampau kapasitas giga. Padahal, jika dilihat, barangnya justru lebih kecil,” ujar Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) Dr Nurul Taufiqu Rochman di sela-sela simposium internasional nanoteknologi dan katalis di Puspitek Kementrian Riset dan Teknologi, Serpong, Tangerang, kemarin.

Manfaat lain yang sudah dikembangkan negara maju seperti Jepang, nanoteknologi telah mampu menghasilkan teknologi ponsel layar sentuh yang dikendalikan lewat pantulan layar. Sementara untuk baterai yang digunakan juga mampu bertahan selama ekian lama. “Jika habis bisa di-charge tidak lebih dari satu menit,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Riset dan Teknologi Kementrian Riset dan Teknologi Dr Ir Bambang Sapto Pratomosunu MSc saat membuka acara.

Di bidang energi, nanoteknologi juga mampu memisahkan material hidrogen untuk bahan bakar. Sehingga, hidrogen tidak lagi ditenteng dengan tabung yang besar, tebal dan rawan meledak. “Intinya efensiensi ruang, barang dan hemat waktu dan biaya. Sedangkan manfaatnya sangat nyata,” kata Dr Nurul Taufiqu Rochman yang juga sebagai peneliti di Puslit Fisika LIPI.

Untuk dalam negeri, pengembangan nanoteknologi belum berorientasi pada industri pasar. Saat ini masih terus dilakukan pengembangan berbagai riset terobosan-terobosan baru dunia teknologi. Dari teknologi terapan hingga aplikasi untuk industri. “Kalau ditanya barangnya, kami tidak ada. Tapi kami punya ptototipenya dan sudah dipatenkan,” terang Nurul.

Di antaranya, nano partikel fisika yang dipatenkan pada Desember 2006 lalu serta alat pembuat nano partikel (hight energy bolming) yang dipatenkan pada Februari 2007 baru-baru ini. Masih terbatasnya pengembangan nano teknologi di Indonesia lantaran minimnya fasilitas serta dukungan dana. Baik dari sponsorship maupun pemerintah.

Kementrian Riset dan Teknologi sendiri hanya menyediakan dana Rp 700 miliar untuk seluruh penelitian. Padahal, untuk pengembangan nanoteknologi saja dibutuhkan dana yang cukup besar. “Rata-rata biasanya, untuk satu kelompok penelitian ada dana sekitar Rp 300 juta. Tapi kami akui itu masih sangat kurang,” ungkap Bambang.

Kepala Divisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI Dr Hery Haerudin menambahkan, minimnya dana tersebut membuat sejumlah peneliti harus berani untuk berkorban serta berkolaborasi dengan para pakar serta berbagai disiplin ilmu. Sebab, diakuinya, manfaat nanoteknologi tersebut sangat luar biasa. Beberapa negara maju sudah meyakini, dengan nanoteknologi, segala sesuatu yang ada di muka bumi bisa direkayasa. Terutama untuk tujuan pasar industri. “Mereka bilang dengan menguasai nanoteknologi, dunia ada dalam genggaman,” bebernya.

Indonesia memiliki prospek yang cukup menjanjikan mengingat banyak di antara bahan dasar nanoteknologi, khususnya katalysis, berasal dari sumber daya alam seperti mineral dan logam. “Orang mungkin tidak cukup familiar. Tapi hasilnya semua bisa melihat. Seperti cat yang beraneka ragam. Dengan nanoteknologi katalis, semua warna yang bercampur seperti tidak ada pemisah dan lebih halus. Begitu juga dalam bahan bakar. Bisa lebih bersih dan daya bakarnya jauh lebih tinggi,” tambahnya. (aak)
http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=290075

Salah satu contoh berita hot untuk keteknikan. Yang aku bold yang menurut aku memberikan point penting untuk keilmuan di Indonesia.

Sebenarnya di Indonesia teknologi nano ini sdh cukup populer, karena banyak temen2 dari Indonesia yang mempelajari ini. Hanya saja, ketika di Indonesia memang terjadi kebuntuan karena ketiadaan dana dan…

“Untuk dalam negeri, pengembangan nanoteknologi belum berorientasi pada industri pasar”

sementara ini, para pakar nano dari Indonesia belum ketemu cara yang lebih baik untuk mengembangkan teknologi ini kecuali…

“berkorban serta berkolaborasi ” dengan universitas lain yang mampu menyediakan fasilitas serta pengembangan keilmuwan yang mapan.

Di sisi lain kita patut berbangga, karena justru dari hal2 yang semacam ini seringkali anak bangsa mentorehkan prestasi yang tidak sepele. Tp tentu saja, kadang ada konsekuensi yang harus dibayar, seperti mereka direkrut di perusahaan atau universitas disana.๐Ÿ™‚

Di sisi satu menggembirakan karena mengharumkan nama bangsa, tp disisi lain, kita gak akan maju2 kalo begini caranya.๐Ÿ™‚

Kreatifitas sekarang yang harus diupayakan para ilmuwan untuk bisa mengembangkan keilmuwanannya dalam mengikuti teknologi terkini.๐Ÿ™‚

Pertama, jelas dana itu nomer satu. Yang jadi masalah adalah sumber dana. Sumber dana dari pemerintah jelas tidak mencukupi karena nanoteknologi membutuhkan dana besar, ya tidak hanya nanoteknologi saja ketawa teknologi membranpun atau pengolahan airpun juga membutuhkan dana besar dalam penelitian. Nah, salah satu alternatif yang bisa dicoba adalah kerja sama dengan industri atau perusahaan. Mereka menyuplai dana untuk para ilmuwan, dimana penelitian nanoteknologi ini bisa diterapkan di industrinya, atau.. ada cross-scientific subsidy (ini istilah saya pribadi).๐Ÿ™‚

Misal, kita sebagai ahli nanoteknologi memberikan proposal ke perusahaan minyak atau elektronik untuk menyokong dana. Dari sini kita tidak usah peduli dulu mereka membutuhkan teknologi ini atau tidak. yang penting adalah, dana mereka bisa digunakan untuk perkembangan nano ini. Sebagai timbal baliknya, jika mereka memiliki masalah, atau project di dalam internal mereka, walaupun tidak berhubungan dengan teknologi nano, maka kita memberikan pelayanan konsultasi. Yang memberikan konsultasi adalah para pakar di bidangnya, bukan pakar nano teknologi. Disini pointnya adalah networking. Mampukah kita mempunyai sebuah network besar semacam itu? Harus ada upaya untuk merintis hal tersebut..๐Ÿ™‚

Atau sebenarnya sudah ada upaya, cuman kitanya aja yang malas ketawa๐Ÿ™‚

Writed by : faj

source :
wikipedia
http://www.internetactu.net
http://www.forumsains.com

8 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: NANOTECHNOLOGY « Ramadhan Fajar-Fisika
  2. Yolis
    Sep 14, 2010 @ 12:09:29

    wow, teknologi emang makin maju aja yah… saluutt deh… aku baru tau deh ponsel touchscreen itu karna nanoteknologi, hehehe… thanks infonya yah๐Ÿ™‚

    Reply

  3. masdiisya
    Sep 20, 2010 @ 10:00:03

    memang ironi, teknologi yang tidak menjual akan ditinggalkan…

    Reply

  4. advertiyha
    Sep 22, 2010 @ 16:17:48

    Sip, jadi tau nih tentang Nanotechnology. dirimu suka fisika ya? mantab deh, kembangin terus bro, semangat juga nulisnya ya…๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

    Reply

  5. vtrediting
    Sep 23, 2010 @ 07:05:33

    Waduh Mas aku sudah lama tidak mengenyam bangku sekolah lagi. Maklum sudah 33 tahun tamat SMA. Jadi sudah lupa apa itu Fisika…tetapi ya sedikit-dikit masih ada yang hapal. Khususnya Fisika Quantum yang memang erat kaitannya dengan medan energi kekekalan…termasuk di sini aplikasi reiki jarak jauh/pemograman energi untuk kasus penyakit. Lepas SMA malah masuk jurusan Penyiaran Televisi dan sekarang sibuk jadi orang broadcasting.
    Salam kenal….header blog nya bagus…bikin sendiri pakai photoshop ya?

    Reply

    • ramadhanfajar
      Sep 23, 2010 @ 10:17:09

      heemmm….critanya kesasar apa nyasar neh kok kul di Penyiaran?tapi mungkin uda jalannya dari yang Atas…..๐Ÿ™‚
      kapan2 Ngliput di daerah Jember Dong…๐Ÿ˜‰

      Reply

  6. Republican Wasp
    Nov 19, 2010 @ 19:25:29

    Nice article. Jadi tau deh soal nanoteknologi. Emang sangat berguna ilmu itu, tapi perlu dasar pengetahuan & dana lebih supaya penerapan ilmunya benar-benar bisa maksimal

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: